Rabu, 23 April 2014
Loading
Home   »   Seni dan Budaya

Menelusuri Keunikan Tari Indang Asal Sumatera Barat

2012-10-22
Menelusuri Keunikan Tari Indang Asal Sumatera Barat
Padang, WisatanewsCom – Indang adalah salah satu kesenian anak nagari Pariaman yang sudah berkembang sejak abad ke 13 seiring dengan masuknya agama Islam ke Minangkabau. Kesenian ini dimainkan oleh 13 orang penari plus 1 orang tukang dzikir.
 
Pemain memainkan alat musik tambourin mini yang disebut dengan rapai. Biasanya kesenian ini ditampilkan pada malam hari. Syair indang yang disebut dengan radaik berisikan shalawat nabi, hikayat dan cerita keagamaan.
 
Secara historis Indang merupakan hasil perkawinan budaya antara Minangkabau dan peradaban Islam abad ke – 14, yang mana Peradaban tersebut diperkenalkan pedagang yang masuk ke aceh melalui pesisir barat Pulau Sumatra dan selanjutnya menyebar ke Ulakan-Pariaman.
 
Tari Indang berkembang dalam kebudayaan Minangkabau seiring masuknya agama Islam ke daerah Sumatera Barat, yang dulunya digunakan sebagai media dakwah.
 
Dan menurut sejarah tari Indang, tarian ini merupakan kebudayaan yang dihasilkan dari penggabungan budaya Minangkabau dan nilai – nilai yang terkandung dalam Islam.
 
Tidak seperti seni tari pada umumnya, tari Indang tidak menonjolkan gerakan tubuh yang penari dalam pertunjukannya.
 
Tari Indang atau Tari badindin sesungguhnya suatu bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok sambil berdendang dan memainkan rebana kecil.Kesenian ini tadinya bertujuan untuk keperluan dakwah islam.
 
Itu sebabnya, sastra yang dibawakan berasal dari salawat nabi Muhammad atau hal-hal bertema keagamaan. Indang berkembang dalam masyarakat tradisional Minangkabau yang menghuni wilayah kabupaten Padang Pariaman.
 
Kalau dibedakan lebih dalam, dalam Indang muncul jenis-jenis nyanyian maqam, iqa’at dan avaz serta penggunaan musik gambus. Maqam menggambarkan tangga nada, struktur interval dan ambitus. Iqa’at menyimpan pola ritmik pada musik islam.
 
Adapun avaz ialah melodi yang bergerak bebas tapa irama dan diperkenalkan musik islam.Indang biasa diramaikan tujuh penari yang semuanya laki-laki.
 
Ketujuh penari itu biasa dinamai ‘anak indang’. Mereka dipimpin seorang guru yang disebut tukang dzikir. Tari indang merupakan manifestasi budaya mendidik lewat surau dan kentalnya pengaruh budaya Islam di Minangkabau. (Wilaf/dari berbagai sumber)