Kamis, 17 April 2014
Loading
Home   »   Seni dan Budaya

Bedhaya Sang Amurwabhumi, Filosofi Patriotisme dan Kepemimpinan

2012-05-14
Bedhaya Sang Amurwabhumi, Filosofi Patriotisme dan Kepemimpinan
Yogyakarta, WisatanewsCom – Yogyakarta, Kota yang selalu memberikan suasana khas dan mungkin tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Indonesia, Selain diistilahkan sebagai Kota pendidikan. Yogyakarta pun merupakan kota budaya karena Yogya memiliki banyak seni budaya yang lahir dari tradisi kehidupan masyarakatnya.
 
Disisi lain keberadaan Keraton pun mempengaruhi ragam kebudayaan yang ada di kota ini. salah satu seni yang lahir dari seni karya Keraton adalah Tarian Bedhaya Sang Amurwabhumi. Tarian ini merupakan salah satu jenis Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana X.
 
Karya tari ini merupakan legitimasi Sri Sultan Hamengku Buwana X kepada swargi (almarhum Sri Sultan Hamengku Buwana IX), yang mempunyai konsep filosofis setia kepada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial.
 
Konsep dan ide dasar tari ini berasal dari Sri Sultan Hamengku Buwana X, sedangkan koreografinya didesign oleh K.R.T.Sasmintadipura.
 
Pertunjukan tarian Bedhaya Sang Amurwabhumi pertamakali dipentaskan saat pengangkatan dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1990 di Bangsal Kencono.
 
Tarian ini dilakukan oleh sembilan penari putri dengan durasi sekitar dua setengah jam, dan diiringi irama dramatik yang menggambarkan kelembutan.
 
Ini merupakan bentuk simbolisasi yang paling hakiki karena setiap raja selalu mempunyai ekspresi dan konsep sendiri dalam setiap pengabdian kepada rakyatnya dengan mencoba menggalang kepemimpinan yang baik melalui pola pikir mengayomi dan mensejahterakan rakyat.
 
Seperti juga Bedhaya lainnya, Bedhaya Sang Amurwabhumi tetap sesuai dengan tradisi dan mengacu pada patokan baku tari bedhaya.
 
Dasar ceritanya diambil dari Serat Pararaton atau Kitab Para Ratu Tumapel dan Majapahit. Bedhaya Sang Amurwabhumi mengambil cerita sentral pada sang Amurwabhumi (Ken Arok) dengan Prajnaparamita (Ken Dedes) dalam menyimbolisasikan spirit patriotisme dan filosofi kepemimpinan.
 
Disisi lain, Pergelaran tari ini juga memperlihatkan gerak dan penataan koreografis tanpa cacat dalam menggambarkan kisah Ken Arok dan sang Pradnya Paramitha Ken Dedes di sebuah masa yang berbunga dan padat politik kerajaan. (Wilaf)